Rabu, 17 Oktober 2012

kamu. yang disana

Hey kamu, ya kamu yang berada disana!

apa kabarmu?

sudah lama rasanya kita tidak saling menegur sapa, sulit rasanya kini menghubungimu

apa saja yang sudah kau lakukan disana? apakah semuanya baik-baik saja?

sepertinya ya. namun tidak cukup baik untukku

terkadang aku rindu akan suara ringtone di handphoneku yang hanya ku khususkan untukmu

aku rindu berbicara padamu hingga kita berdua lupa waktu dan akhirnya tertidur

aku rindu mendengar tawamu dan genggaman erat jarimu

aku rindu mendengar suara langkah kaki yang dikeluarkan oleh sepatumu

bahkan aku juga merindukan tingkah konyolmu sewaktu kita bersama dulu

ah, mengenangmu memang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan untuk melupakanmu.

Jangan Salahkan Aku yang Mencintaimu


Jangan salahkan aku yang mencintaimu
Salahkan aku yang terlalu banyak berharap tentang kita

Terlalu dalam aku menyelami perasaanku
Hingga aku tenggelam dan tak bisa lagi kembali ke permukaan

Terlalu dalam aku menggali hatiku
Hingga aku terjebak dalam lubang dengan muka pintu yang tak dapat lagi terbuka

Terlalu dalam aku menggantung harapanku
Hingga puing-puing itu tertiup angin dan jatuh bersama sampah-sampah yang berserakan

Terlalu jauh aku berlari
Hingga aku lupa, dirimu tlah menjauh pergi

MASIH PANTASKAH AKU MENUNGGU?



Kamu, adalah alasan mengapa aku masih berdiri disini, menanti
Kamu, adalah alasan mengapa pintu haiku takkan kubiarkan sedikit pun terbuka
Kamu adalah alasan mengapa aku menunggu pagi dan tidur larut hanya untuk menemanimu hingga terjaga
Kamu, adalah alasan mengapa tak ada kesempatan lagi untuk cinta cinta yang lain

Namun kini dia hadir…………..

Lalu, untuk apa aku menunggu?
Jika yang kamu harapkan bukan lagi diriku
Untuk apa aku menunggu?
Jika senyum yang kau berikan bukan untukmu
Untuk apa aku menunggu?
Jika kebahagiaanmu dia, bukan lagi aku
Untuk apa aku menunggu?
Jika tak ada lagi ruang dihatimu untuk ku singgahi

Aku layaknya bunga ditepian jalan itu,
Haus akan sinar matahari dan hujan. Tanpa ada satu pun orang yang peduli
Aku hanyalah sang rumput liar,
Hanya tinggal menunggu waktu sampai tiba saatnya seseorang memangkas habis diriku
Aku hanyalah seekor kerbau,
Yang rela menjadi budak seorang majikan yang bernama cinta

Sedangkan kamu?
Kamu adalah khayalan, yang seketika hilang saat aku mengerjapkan mata
Kamu adalah angan, yang tak pernah dan tak akan bisa ku gapai
Kamu adalah ombak, yang mengikisku secara perlahan
Dan kamu adalah harapan
Yang tak selamanya akan menjadi kenyataan

Antara Hati, dan Aku


Hati ini sudah sering menangis,
Mungkin dia sudah lelah
Mata ini sudah sering mengeluarkan air mata,
Hingga akhirnya ia pun juga jengah

Pikiran ini tak hentinya memikirkanmu,
Mungkin kini dia sudah mulai bosan

Namun diri ini,
Masih terus memikirkanmu
Hati ini,
Masih terukir jelas pahatan namamu
Mata ini,
Akan terus mengeluarkan airmata untukmu
Sampai pada akhirnya, yang keluar hanyalah tangis bahagia

Berbahagialah, Untukku


Aku berdiri ditepian hatiku
Melihat kau menari dibawah rinai hujan
Bersama ratu itu

Setiap gerakan tubuhmu
Setiap garis yang terlukis di wajahmu
Kau terlihat bahagia
Sangat bahagia

Kurasa kini tugasku sudah selesai
Maafkan aku yang sempat singgah dihatimu
Berbahagialah, Untukku.

Aku Selalu Mengagumi Matahari


Aku selalu mengagumi matahari
Yang rela berbagi langit dengan sang rembulan

Aku selalu mengagumi matahari
Yang selalu menyambut langit dengan fajar

Aku selalu mengagumi matahari
Yang rela menutupi kesedihannya saat melihat bulan datang, dengan keindahan senja

Aku selalu mengagumi matahari
Karena matahari adalah aku
Dan langitku adalah kamu

entah judul apa yang dapat aku tuliskan


                 Mungkin kamu sudah bosan, bahkan amat bosan ketika aku selalu terus dan menerus mengucapkan “aku rindu”. Aku memang egois, aku tidak bisa menahan rinduku seorang diri. Namun aku hanya ingin memberitahumu, aku tak sepenuhnya menginginkan balasan. Meskipun, memang itu yang selalu aku harapkan