105 hari berlalu
Mungkin terdengar sebentar untuk orang yang lebih kuat bertahan
Atau terlalu lama untuk orang yang mudah menyerah
Tetapi menurutku, ini bukan lagi masalah waktu
Biarlah waktu menjadi saksi bisu diantara harapan yang semu dan kesetiaan yang membeku
105 hari berlalu
Air mata ini menumpuk di pelupuk mataku
Tidak, aku tidak berkenan untuk menjadikannya sebuah tangis
Aku tahu bahwa aku lebih kuat dari itu
105 hari berlalu
Terima kasih telah menuai suka dan duka di setiap hariku
Aku mengerti bahwa terima kasih, bahkan tekuk lutut-ku pun tak akan cukup untukmu
105 hari berlalu
Berjanjilah padaku, ini 105 hari terakhir yang kau sia-siakan
105 hari terakhir yang kau abaikan
Berjanjilah padaku, jangan ada 105 hari lainnya
Yang akan kau berikan untuk seseorang yang kelak kau jadikan pasangan
Senin, 31 Maret 2014
Surat Untuk Mantan
Teruntuk Kamu,
Yang jejaknya masih terpahat jelas...
Bolehkah aku meminta sedikit waktumu saat ini?
Sekedar untuk membaca suratku, atau pengakuanku lebih tepatnya.
Sesungguhnya, aku benci menampakkan kerapuhanku.
Dua tahun telah berlalu,
Mungkin waktu berjalan cepat untukmu
Tetapi, betapa waktu ini sangat menyulitkanku
Tiap detik telah kuhabiskan untuk memupuk rasa rindu di hatiku
Aku tahu ini akan menghasilkan pilu
Tetapi, sejauh ini aku telah berhasil menyembunyikannya darimu
Bolehkah aku mengingatkanmu kembali tentang masa lalu?
Ah, membahas masa lalu memang membuang waktu
Karena lagi-lagi yang ia sisakan hanya sebongkah rindu dan menorehkan sendu di wajahku.
Ingatkah kamu akan waktu yang telah kita lewati dulu?
Sayangnya, kini waktumu bukan lagi untukku.
Kau pernah meminta padaku untuk tetap menunggumu hingga kau pulang ke kota asalmu dan kembali bersamaku.
Kini, masih berlakukah permintaan itu?
Disaat bersamaan, orang lain telah berada di sampingmu.
Aku tidak sedikitpun menyesal telah mengenalmu
Tetapi, mengapa kau menawarkan kebahagiaan jika yang kau beri hanya akhir yang menyakitkan?
Salahku memang yang telah menggantungkan harapan
Akhirnya aku sadar, kecewalah yang aku dapatkan.
Bukankah lucu.....
Kamu, yang telah menawarkan ribuan janji akan masa depan
Kini, datang padaku hanya meminta untuk dimaafkan
Tidak ada yang salah dengan hati yang jatuh
Mungkin, aku saja yang kurang beruntung
Meskipun ada luka yang tidak dapat disembuhkan
Tetapi masih ada hati yang selalu mampu memaafkan
Mengenalmu memang menyenangkan, meski aku harus merelakan ada hati yang akan tergoreskan
Berbahagialah dengannya yang telah kau jadikan pilihan
Mungkin, aku akan tetap menjadi riak kecil di tengah lautan.
Terima kasih telah datang
Meski hanya berujung kepergian
Tetapi disitulah aku belajar merelakan
Meski ada serpihan yang belum mengikhlaskan
Dari Aku,
Yang pernah menjadi bagian darimu.
*tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #SuratUntukRuth. Novel Bernard Batubara*
Langganan:
Postingan (Atom)