Hari ini, entah kesekian kalinya hujan turun
Aku selalu mencintai hujan, suaranya yang khas membuat keteduhan sendiri dihati
Aromanya yang menggiurkan, seakan membawa angan pergi bersama buliran air itu
Juga pelangi, keindahannya yang tak pernah bosan untuk dipandang mata telanjang
Namun hari ini, entah mengapa suara hujan lebih keras dari biasanya. Ia tidak lagi lembut seperti hari-hari lalu
Setiap tetesan-tetesan yang jatuh ke tanah terasa seperti hantaman yang menyakitkan
Ya, untuk pertama kalinya aku benci hujan.
Aku benci suara hujan.
Aku benci mendengar percikan-percikan air yang tajam
Seakan merobek-robek dan membuat luka yang amat dalam
Aku benci semua hal tentang hujan, karenanya mengandung setiap hal tentang kamu
Hari ini aku sangat merasa sakit
Aku sakit bukan karenamu, tapi karena kepergianmu yang amat sangat cepat.
Aku belum siap!
Setiap butiran-butiran air seakan mengandung setiap inci dari kenangan akan kita
Percikan-percikan itu menghancurkan semua butirannya. yang selama ini aku jaga dengan hati-hati
Aliran air yang lama-lama menghilang seakan mengerti bahwa kamu memang akan pergi dan tak akan kembali
Bagaikan air hujan yang akan kembali ke laut asalnya, begitu juga dengan kamu
Kamu telah kembali ke asalmu, menduduki singgasana terindah diatas sana
Layaknya awan, seperti itulah harapanku. yang terus berharap kamu suatu saat akan kembali
Mungkin aku sudah gila, namun memang begitulah kenyataannya
Layaknya dedaunan yang hijau,
Aku selalu menantimu, membutuhkanmu untuk tumbuh dan terus tumbuh
Namun semakin lama aku semakin sadar, hal sekecil apapun harus aku syukuri
Begitu juga bersamamu, aku sangat bersyukur.
Kini biarlah hujan yang menyimpan kenangan tentang kita
Meskipun kamu tidak lagi kembali, namun kamu dan kita mempunyai tempat sendiri dihati
Dan kini aku pun tahu, bahwa air hujan yang turun.....bukan lagi air hujan yang sama.