Selasa, 15 Oktober 2013

Tuhan...

Tuhan, mengapa sesuatu yang indah lebih cepat pergi?
Mengapa sesuatu yang dicintai dapat sangat melukai?
Tuhan, mengapa Engkau ciptakan cinta bila pada akhirnya menggoreskan luka?
Mengapa Engkau hadirkan suka bila pada akhirnya terselip duka?

Tuhan, aku tak punya kuasa selain meminta
Aku tak punya kuasa selain meronta
Aku tak punya kuasa selain berdoa
Tuhan...


Hanya Engkau yang tahu apa yang tersembunyi di balik airmata

Siksa Merindu

Aku tidak mengerti mengapa aku begitu takut kehilanganmu
Aku tidak mengerti mrngapa aku tak bisa lalui hariku tanpamu
Rasa yang berlebihan ini amat menyiksaku
Aku tak ingin terlarut bersama rindu yang menggebu
Yang hadir setiap saat tanpa jemu
Jika aku diperkenankan, aku ingin menjadi yang terbaik bagimu
Ada kapan pun kau membutuhkanku
Ah, lagi-lagi rasa yang berlebihan ini menyiksaku
Seakan satu hari pun tak cukup aku habiskan denganmu
Biarlah rindu ini tenggelam dalam bisu

Hingga tiba saatnya jau tau seperti apa siksa merindu

TAKUT

Kamu tau mengapa aku selalu takut memulai?
Ya, karena aku takut semuanya berakhir

Kamu tau mengapa aku selalu takut bertemu?
Ya, karena aku takut akan perpisahan

Kamu tau mengapa aku selalu takut memiliki?
Ya, karena aku takut kehilangan

Kamu tau mengapa aku selalu takut mencoba?
Ya, karena aku takut gagal

Kamu tau mengapa aku takut berharap?
Ya, karena aku takut kecewa

Senin, 16 September 2013

Jika Cinta Itu Sederhana

Jika cinta itu sederhana,
Mengapa hati selalu memperumit?
Dan jika cinta adalah jawaban,

Mengapa masih ada tanya yang tak terjawab?

Rabu, 08 Mei 2013

Kepadamu Yang Mencintai Senja


Kepadamu yang mencintai senja
Kini tulisanku bukan lagi tulisan sendu
Namun tulisanku selalu tentangmu

Kepadamu yang mencintai senja
Aku titipkan separuh hatiku kepadamu
Silahkan kau pilih warna apa yang akan kau torehkan kepadanya

Kepadamu yang mencintai senja
Tetap nikmati senja bersamaku
Dan jadikanlah aku sebagai senjamu

Sabtu, 05 Januari 2013

Tentang Hujan, dan Kita

Hari ini, entah kesekian kalinya hujan turun
Aku selalu mencintai hujan, suaranya yang khas membuat keteduhan sendiri dihati
Aromanya yang menggiurkan, seakan membawa angan pergi bersama buliran air itu
Juga pelangi, keindahannya yang tak pernah bosan untuk dipandang mata telanjang
Namun hari ini, entah mengapa suara hujan lebih keras dari biasanya. Ia tidak lagi  lembut seperti hari-hari lalu
Setiap tetesan-tetesan yang jatuh ke tanah terasa seperti hantaman yang menyakitkan
Ya, untuk pertama kalinya aku benci hujan.
Aku benci suara hujan.
Aku benci mendengar percikan-percikan air yang tajam
Seakan merobek-robek dan membuat luka yang amat dalam
Aku benci semua hal tentang hujan, karenanya mengandung setiap hal tentang kamu
Hari ini aku sangat merasa sakit
Aku sakit bukan karenamu, tapi karena kepergianmu yang amat sangat cepat.
Aku belum siap!
Setiap butiran-butiran air seakan mengandung setiap inci dari kenangan akan kita
Percikan-percikan itu menghancurkan semua butirannya. yang selama ini aku jaga dengan hati-hati
Aliran air yang lama-lama menghilang seakan mengerti bahwa kamu memang akan pergi dan tak akan kembali
Bagaikan air hujan yang akan kembali ke laut asalnya, begitu juga dengan kamu
Kamu telah kembali ke asalmu, menduduki singgasana terindah diatas sana
Layaknya awan, seperti itulah harapanku. yang terus berharap kamu suatu saat akan kembali
Mungkin aku sudah gila, namun memang begitulah kenyataannya
Layaknya dedaunan  yang hijau,
Aku selalu menantimu, membutuhkanmu untuk tumbuh dan terus tumbuh
Namun semakin lama aku semakin sadar, hal sekecil apapun harus aku syukuri
Begitu juga bersamamu, aku sangat bersyukur.
Kini biarlah hujan yang menyimpan kenangan tentang kita
Meskipun kamu tidak lagi kembali, namun kamu dan kita mempunyai tempat sendiri dihati
Dan kini aku pun tahu, bahwa air hujan yang turun.....bukan lagi air hujan yang sama.

HARAPAN

ketika satu-satunya hal yang kamu harapkan tidak menjadi kenyataan
ketika satu-satunya hal yang kamu andalkan mendadak pergi
ketika satu-satunya hal terindah yang kau punya hilang dari ingatan
ketika satu-satunya hal yang tak ingin kau ingat menyeruak kembali

akankah kau tetap bertahan tanpa air mata yang membasahi pipi?
akankah kau tetap melangkah sedangkan jejak kakinya masih menempel dibawah jejakmu?
akankah pikiranmu dapat berpikir secara rasional?
akankah tanganmu tetap menggenggam meskipun tak ada lagi harapan?

mungkin diri ini sudah muak dengan kepedihan
berusaha tetap tegar, tidak peduli apa yang ia rasakan
namun hati tidak....
hatiku terlalu lembut untuk mengacuhkan segala hal yang terjadi pada diri ini

seandainya, air mata yang telah jatuh dapat menjawab semua pertanyaan
seandainya, hati yang menyimpan banyak cerita dapat memaparkan semuanya
seandainya, kaki yang melangkah dapat berbicara
seandainya, aku dapat menuturkan semua hal yang masih aku jadikan harapan